Medan || Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian, dan Internasionalisasi (RIPI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Rudianto, M.Si., memberikan arahan penuh makna sekaligus reflektif saat menghadiri prosesi Yudisium 186 lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMSU
Mewakili pimpinan universitas, Dr. Rudianto menyampaikan rasa bangga dan haru atas pencapaian para lulusan dari tiga program studi—Kesejahteraan Sosial, Ilmu Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi. Ia turut memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para orang tua dan keluarga.

“Apresiasi dan ucapan terima kasih pertama yang paling pantas diberikan adalah kepada orang tua dan keluarga. Mereka telah membanting tulang dan berjuang keras membiayai studi anak-anaknya selama kurang lebih empat tahun di UMSU,” tutur Rudianto.
Menatap Realitas Pasca-Kemeriahan Wisuda
Mengingatkan para calon wisudawan yang akan mengikuti prosesi wisuda resmi pada Selasa mendatang, Dr. Rudianto mengajak mahasiswa untuk menyadari bahwa perayaan dan euforia wisuda hanyalah fase awal. Tantangan sesungguhnya akan dimulai ketika toga dilepas dan mereka kembali ke tengah masyarakat.
Ia memetakan bahwa lulusan yang telah memiliki pengalaman kerja, magang, portofolio kuat, atau niat berwirausaha mungkin sudah memiliki gambaran langkah ke depan. Namun, sebagian besar lulusan lainnya akan dihadapkan pada pertanyaan krusial mengenai kesiapan modal kompetensi mereka untuk melamar pekerjaan atau melanjutkan studi.
“Generasi Z hari ini dihadapkan pada peradaban dan kemajuan teknologi yang bergerak amat cepat. Cara hidup, cara memenuhi kebutuhan, hingga pola menjalankan ekonomi lima tahun ke depan akan sangat berbeda dibanding lima tahun yang lalu,” terangnya.

Ancaman Useless Class di Era Disrupsi AI
Dalam perenungan tersebut, Dr. Rudianto menyoroti fenomena sosial yang kian nyata di era disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yakni munculnya useless class atau kelas masyarakat yang tidak terpakai.
Mengapa dikatakan kelas masyarakat tidak terpakai? Karena skill dan kompetensi mereka tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri hari ini,” tegas Rudianto.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu hilangnya kekuatan ekonomi dan posisi tawar politik masyarakat. Ketika terjadi disrupsi di bidang ekonomi dan politik, suara rakyat dapat kehilangan pengaruh signifikan jika tidak diimbangi dengan kekuatan ekonomi dan pekerjaan yang produktif.
Meski menyuarakan tantangan berat tersebut, Rudianto berpesan agar para alumni tidak terjebak dalam rasa cemas berlebihan (overthinking). Ia optimistis bahwa Indonesia sebagai negara besar masih menyediakan banyak peluang bagi mereka yang tanggap dan peduli (aware) terhadap perkembangan zaman.
Sebagai penutup arahannya, Dr. Rudianto membagikan kunci utama agar alumni FISIP UMSU terhindar dari ancaman useless class:“Jangan pernah berhenti belajar dan terus tingkatkan (upgrade) skill serta kompetensi diri. Sangat mungkin ilmu yang diperoleh selama empat tahun di bangku kuliah akan berubah total dalam empat tahun ke depan. Jadi pesannya: terus perbarui dan tingkatkan kemampuan kalian meski sudah menyandang gelar sarjana,” pungkasnya.
